Dari Jagung ke Pasar Nasional: Kisah BUMDes di Sulawesi
Semua BeritaProgram

Dari Jagung ke Pasar Nasional: Kisah BUMDes di Sulawesi

2 Oktober 2026 Redaksi Kopdes Merah Putih

Bermula dari lumbung desa yang sepi, sebuah BUMDes kini memasok hasil tani ke tiga provinsi. Kuncinya bukan modal besar, tapi gotong-royong yang terorganisir.

Awal yang biasa saja

Tidak ada yang istimewa dari desa ini. Sawahnya sempit, hasil jagungnya cukup untuk keluarga, dan lumbung desa sering kosong sebelum musim tanam berikutnya. Yang berubah bukan lahannya, melainkan cara warga mengelola hasilnya.

Satu keputusan yang mengubah segalanya

Pengurus BUMDes memutuskan berhenti menjual jagung pipilan mentah ke tengkulak. Mereka mengumpulkan hasil panen anggota, mengeringkan bersama, dan menjual dalam satu pintu. Volume yang terkumpul membuat harga jauh lebih baik.

  • Panen dikumpulkan dan ditimbang di lumbung desa
  • Kualitas dipilah sebelum dijual
  • Penjualan dilakukan satu pintu oleh BUMDes

Gotong-royong yang terorganisir

Yang membuatnya berhasil bukan sekadar semangat. Ada pembukuan sederhana yang dicatat setiap hari, ada rapat anggota setiap bulan, dan ada pembagian hasil yang diumumkan terbuka di papan desa.

Kejujuran kecil yang diulang setiap bulan inilah yang membuat anggota percaya. Dan kepercayaan itulah modal sebenarnya.

Menembus batas kecamatan

Setelah pasokan stabil, BUMDes mulai menghubungi koperasi desa lain di provinsi tetangga. Lewat jaringan Kopdes Merah Putih, mereka menemukan pembeli yang membutuhkan pasokan rutin, bukan sekadar pembeli musiman.

Sekarang, hasil tani desa ini mengalir ke tiga provinsi. Tidak ada yang berubah dari desanya. Yang berubah adalah cara warga bekerja bersama.

Artikel redaksi Kopdes Merah Putih.